TIDAK sia-sia, Desa Lepang, Takmung, memperoleh predikat desa sadar lingkungan. Dengan predikat itu, daerah bagian selatan Klungkung itu akhirnya ditunjuk sebagai pilot project daur ulang sampah plastik oleh Bapedalda Propinsi Bali.Bapedalda menyumbang mesin pencacah yang harganya mencapai puluhan juta rupiah. Tidak hanya itu, Bapedalda juga menyerahkan bantuan uang tunai untuk pengoperasian awal sebesar Rp 4 juta.
Di hadapan Wakil Bupati Klungkung, Ngakan Bawa, serta jajarannya yang meninjau di sela-sela kegiatan PSN massal, Jumat (10/2) kemarin, Bendesa Adat Lepang Nyoman Mudita didampingi Camat Banjarangkan, Komang Alit Artha Sedana, menjelaskan bantuan mesin pencacah itu sebenarnya diserahkan kepada desa adat. Namun, pengoperasiannya diserahkan kepada sekaa teruna setempat dengan tetap berkoordinasi dengan desa adat. Dengan harapan, sekaa teruna mendapat lapangan pekerjaan sekaligus menyalurkan kreativitasnya. Sedikitnya, tahap awal akan membutuhkan sembilan tenaga kerja. Sehingga, kesempatan untuk melakukan tindakan-tindakan negatif dapat diminimalisasi.
Sayang, mesin pencacah bantuan Bapedalda Bali yang ditempatkan di atas lahan seluas 5 are di Subak Lepang itu, untuk sementara belum bisa dioperasikan. Di samping masih mengurus permohonan pemanfaatan lahan, tempat penampungan dan penjemuran sampah plastik pra pengolahan, belum tersedia. Begitu juga dengan tempat penyimpanan hasil cacahan. Gambaran awalnya, harga hasil cacahan nantinya rata-rata dihargai Rp 6 ribu per kilogram. Pasarannya hingga ke Singapura dan Jepang. Sedangkan, pengelola akan menghargai sampah plastik masyarakat Rp 3 ribu per kilogram.Wabup Ngakan Bawa menyatakan dukungannya atas keberadaan mesin pencacah plastik itu. Terkait permohonan tempat penjemuran, penampungan dan sebagainya, dia menyarankan desa adat membuat proposal kemudian diajukan ke pemkab.
1 komentar:
he he he
yang di bahas kok lepang aja sih???
Posting Komentar